SELAMAT DATANG PARA PECINTA SENI DAN SASTRA

hidupkan dunia Seni dan Sastra dalam jiwamu OX ! ?

Rabu, 09 Desember 2009

Wajar


Aku adalah manusia biasa
Yang tercipta dengan segala keterbatasanku
Tak sama seperti malaikat
Yang memiliki seribu sayap

Wajar
Jika kalian selalu menipu aku
Aku juga tak akan tau semua gerak gerikmu di belakangku
Semua itu seakan urusan pribadimu
Dan bagimu aku tak perlu tau

Wajar
Jika sebenarnya aku hanya mengusik ketenanganmu
Karena bagimu aku hanya hama perusak

Wajar
Bila aku tak bisa memberimu kebahagiaan
Dan sebenarnya kalian lebih memilih yang lain
Sebab aku bukan manusia bertahta
Dan mereka lebih bergelimang dengan harta

Wajar dan sangat wajar
Jika akhirnya aku hanya bisa merasakan sakit hati
Karena aku sudah terlalu lancang merasuk dan terlibat dalam ceritamu (Jogja, 18, 11, ’09)

Tak Biasa

Semua seakan tampak biasa saja di mata mereka
Matahari terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat
Burung-burung berkicauan manyambut datangnya pagi
Dan kelelawar mulai berterbangan ketika senja tiba

Itu kebiasaan alam mengikuti jalur takdir
Bagaimanapun kalian tak akan dapat merubahnya
Itu bagian dari sekenario Tuhan yang tak dapat dihapuskan

Tapi ada yang tak biasa dari kisah cintaku
Aku merangakainya dengan seorang wanita yang luar biasa
Berjiwa sederhana dan apa adanya
Meski terkadang bertingkah manja

Terkadang aku terlalu bermimpi jauh tentangnya
Menjadikannya wanita yang akan mengasuh anak-anakku mengenal Tuhan dan mempelajari ajaran agama
Aku juga tak tau tentang apa mimpinya denganku nanti

Aku selalu berharap ini kisah pertama dan terakhirku mengenal cinta
Aku selalu berangan-angan dialah wanita yang akan kubawa pulang dari kota ini
Jikapun tidak
Biarkan bumi yang akan membawaku menemui Tuhanku
Jogja ,19, 11, ‘09

Minggu, 29 November 2009

Malam Iedul Adha

Ini malam iedul adha
Tapi naku tak mendengar bahkan mengumandangkan suara takbir
Yang ku dengar hanya deru bising kendaraan
Aku berada di antara orang-oarang tak berduit
Aku berada di kumpulan orang-orang kumuh jalanan

Aku beragama Islam
Sama seperti ayah dan ibuku
Ayahku sedang menjalani ibadah haji di tanah suci
Tapi aku seakan gelandangan yang tak berpendidikan
Aku hanya berteman kepulan asap rokok dan bising kendaraan
Menunggu keajaiban Tuhan

Waktu kecil aku selalu berada di deretan depan
Mengumandangkan takbir dan tersenyum riang
Tapi kini senyumku hanya digantikan dengan kerut dahi kebingungan

Menurutmu ini salah siapa?
Aku pernah belajar ngaji bersama para santri
Tapi sekarang aku jauh dari kehidupan kiyai

Aku ini bodoh atau memang ngeyel ketika aku dinasihati
Obsesiku ingin hidup di dunia seni
Tapi ayahku menginginkanmu menjadi seorang kiyai seperti beliau

Coba tebak siapa yang tolol?
Ini malam iedul adha
Dan esok adalah hari raya
Seharusnya aku bergembira seperti halnya mereka
Tapi sekarang aku malah duduk di pinggiran jalan seperti gembel jalanan

Oh, maaf Tuhan
Aku selalu merindukan kasih sayang
Rasanya aku ingin cepat mati saja
Agar cepat aku bertemu dengan-Mu, yang katanya Maha Kasih Sayang
Agar aku tak hanya berkutat dengan puisi-puisiku yang menjijikkan
Rasanya kau sudah malu berteman dengan alam
Jogja (Gondomanan) 26, 11, ‘09