Ini malam iedul adha
Tapi naku tak mendengar bahkan mengumandangkan suara takbir
Yang ku dengar hanya deru bising kendaraan
Aku berada di antara orang-oarang tak berduit
Aku berada di kumpulan orang-orang kumuh jalanan
Aku beragama Islam
Sama seperti ayah dan ibuku
Ayahku sedang menjalani ibadah haji di tanah suci
Tapi aku seakan gelandangan yang tak berpendidikan
Aku hanya berteman kepulan asap rokok dan bising kendaraan
Menunggu keajaiban Tuhan
Waktu kecil aku selalu berada di deretan depan
Mengumandangkan takbir dan tersenyum riang
Tapi kini senyumku hanya digantikan dengan kerut dahi kebingungan
Menurutmu ini salah siapa?
Aku pernah belajar ngaji bersama para santri
Tapi sekarang aku jauh dari kehidupan kiyai
Aku ini bodoh atau memang ngeyel ketika aku dinasihati
Obsesiku ingin hidup di dunia seni
Tapi ayahku menginginkanmu menjadi seorang kiyai seperti beliau
Coba tebak siapa yang tolol?
Ini malam iedul adha
Dan esok adalah hari raya
Seharusnya aku bergembira seperti halnya mereka
Tapi sekarang aku malah duduk di pinggiran jalan seperti gembel jalanan
Oh, maaf Tuhan
Aku selalu merindukan kasih sayang
Rasanya aku ingin cepat mati saja
Agar cepat aku bertemu dengan-Mu, yang katanya Maha Kasih Sayang
Agar aku tak hanya berkutat dengan puisi-puisiku yang menjijikkan
Rasanya kau sudah malu berteman dengan alam
Jogja (Gondomanan) 26, 11, ‘09
SELAMAT DATANG PARA PECINTA SENI DAN SASTRA
hidupkan dunia Seni dan Sastra dalam jiwamu OX ! ?
Minggu, 29 November 2009
Selasa, 17 November 2009
DEWANTARA
Telah lama aku mengenal Dewantara
Photonya terpajang jelas di dinding kelas sekolah dasarku
Dengan senyum wibawa menuntunku mengenal dunia pendidikan Indonesia
Ajaran-ajaran dan buah pikirannyapun sudah banyak diperbincangkan di bangku-bangku para cendekiawan
Namun semua seolah berlalu mengikuti detak langkah jarum jam
Karya-karyanya hanya tinggal kertas-kertas lusuh yang tersusun rapi di perpustakaan
Hanya sedikit saja kata-kata beliau yang masih dibincangkan dalam ruang kelas pembelajaran
Itupun tak dapat membuat mereka paham
Ajaran-ajaran tentang seni budaya beliau yang mulai aku perdalam
Kini hanya tinggal teori yang tertulis rapi pada kertas-kertas kusam di perpustakaan
Mereka yang dipercaya dengan semua itu
Lebih memilih lembaran-lembaran uang kertas yang tak begitu berharga
Andai beliau kini masih ada di hadapanku
Aku akan mengajakna bediskusi tentang makna-makna budi pekerti yang terselubung dalam kata "Seni Tradisi"
Aku akan mengajaknya bertukar pikiran tentang Ilmu Budaya di pendapa kebesarannya
TAMANSISWA
Jika saja beliau masih hidup sampai hari ini
Mungkin beliau hanya bisa meneteskan air mata tanda sakit hati karena kekecewaanya
Menyaksikan hasil kerja kerasnya hayna dinilai sebagai funsi materialis
Membuktikan buah keringatnya diganti dengan keegoisan individualis yang tak bertanggung jawab
Tabahkan hatimu Dewantaraku
Meski mereka mengabaikan jerih payahmu
Walau mereka menghianati kepercayaanmu dengan lembaran-lembaran rupiah itu
Tapi aku akan tetap bangga dengan hadirmu di Indonesiaku
Jogja, 17 November '09
Photonya terpajang jelas di dinding kelas sekolah dasarku
Dengan senyum wibawa menuntunku mengenal dunia pendidikan Indonesia
Ajaran-ajaran dan buah pikirannyapun sudah banyak diperbincangkan di bangku-bangku para cendekiawan
Namun semua seolah berlalu mengikuti detak langkah jarum jam
Karya-karyanya hanya tinggal kertas-kertas lusuh yang tersusun rapi di perpustakaan
Hanya sedikit saja kata-kata beliau yang masih dibincangkan dalam ruang kelas pembelajaran
Itupun tak dapat membuat mereka paham
Ajaran-ajaran tentang seni budaya beliau yang mulai aku perdalam
Kini hanya tinggal teori yang tertulis rapi pada kertas-kertas kusam di perpustakaan
Mereka yang dipercaya dengan semua itu
Lebih memilih lembaran-lembaran uang kertas yang tak begitu berharga
Andai beliau kini masih ada di hadapanku
Aku akan mengajakna bediskusi tentang makna-makna budi pekerti yang terselubung dalam kata "Seni Tradisi"
Aku akan mengajaknya bertukar pikiran tentang Ilmu Budaya di pendapa kebesarannya
TAMANSISWA
Jika saja beliau masih hidup sampai hari ini
Mungkin beliau hanya bisa meneteskan air mata tanda sakit hati karena kekecewaanya
Menyaksikan hasil kerja kerasnya hayna dinilai sebagai funsi materialis
Membuktikan buah keringatnya diganti dengan keegoisan individualis yang tak bertanggung jawab
Tabahkan hatimu Dewantaraku
Meski mereka mengabaikan jerih payahmu
Walau mereka menghianati kepercayaanmu dengan lembaran-lembaran rupiah itu
Tapi aku akan tetap bangga dengan hadirmu di Indonesiaku
Jogja, 17 November '09
Senin, 26 Oktober 2009
Abdi Dalem
Di saat kehidupan membutuhkan kemewahan
Kala kekayaan dan kemegahan seolah menjadi Tuhan
Apa yang membuatmu terdiam kaku dalam kesederhanaan
Jalan apa yang kau cari sehingga kau memilih tetap duduk bersila di antara lutut para penguasa
Mungkin ketenangan dan ketentraman batinlah yang terus membuatmu tersenyum
Namun itulah yang ada dalam benakku pikirku
Yogyakarta Mei '09
Kala kekayaan dan kemegahan seolah menjadi Tuhan
Apa yang membuatmu terdiam kaku dalam kesederhanaan
Jalan apa yang kau cari sehingga kau memilih tetap duduk bersila di antara lutut para penguasa
Mungkin ketenangan dan ketentraman batinlah yang terus membuatmu tersenyum
Namun itulah yang ada dalam benakku pikirku
Yogyakarta Mei '09
Langganan:
Postingan (Atom)